Rabu, 02 November 2011

Memulai Bisnis Laundry Kiloan

Berikut ini, saya akan menulis terkait usaha laundry yang kini sedang booming di berbagai kota. Kebetulan saya sendiri praktisi binis basah-basah ini. Insyaallah bila ada pembaca yang mempraktikkan, akan langsung bisa. Karena tulisan ini sifatnya praktis juga merupakan pengalaman penulis sudah tiga tahun berjalanmenjalankan bisnis laundry di Tasikmalaya.

Nama :Sahabat Laundry

Alamat : Jalan Peta 49 Gunung Roay Kota Tasikmalaya

Telpon : 081323194449

MEMULAI BISNIS LAUNDRY

Pergeseran Gaya Hidup

Sekitar tahun 1990, tak banyak orang yang berkecimpung dalam bisnis jas alaundry kiloan. Bila pun ada, itu hanya terbatas laundry pada hotel berbintang, juga jasa laundry yang kala itu biasa disebut washrey dengan tariff satuan. Para pelanggan kebanyakan menengah ke atas, karena pakaian yang dicuci ka washrey, biasanya pakaian berkelas seperti jas, pakaian pengantin dan pakaian yang memerlukan keahlian khusus dalam membersihkannya. Demikian juga harga, relative mahal untuk ukuran cuci mencuci. Bukankah urusan mencuci semua orang bisa melakukan?

Perlahan, terjadi pergeseran. Kini jasa laundry tidak lagi menerapkan tarif satuan yang mahal, namun sudah tariff kiloan. Tempat jasa laundry pun semakin marak tersedia mulai di kota besar hingga kota kecil. Mencuci di laundry, bukan lagi menopoli kelas menengah ke atas, tetapi semua kalangan mulai buruh bangunan, mahasiswa hingga professional menggunakan jasa laundry. Alasannya bisa macam-macam. Orang sudah sangat sibuk dengan pekerjaan dan tidak lagi sempat mencuci pakaian sendiri. Demikian pula menyewa pembantu terlalu mahal dan tidak mau mengambil risiko.

Tarif kiloan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Si pengguna jasa laundry biasa menerima sebanyak-banyaknya order juga pengguna jasa tidak terbebani dengan harga. Orang pun kini bukan ramai-ramai mencuci di kakus umum sambil ngegosip ria, namun berbondong-bondong mencuci ke tempat penyedia jasa laundry. Nah dengan pergeseran gaya hidup itu, tak sedikit yang melirik usaha “basah” dalam urusan bersih-bersih ini.

Bagaimana Memulai?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul saat akan menjalankan bisnis, apakah memilih usaha dengan resep sendiri atau membeli praancaise? Jawabannya bermacam-macam tergantung argumen yang melandasinya. Pertama, bila anda cukup memiliki uang sebaiknya memilih prancaise yang terpercaya. Adakalanya, pemilik princise ingin untung sendiri tanpa memikirkan kelanjutan para princiser bahkan terkesan tidak bertanggungjawab.

Beberapa keuntungan membeli prainchise, relative mengurangi risiko kerugian. Sebab si princiser tidal lagi coba-coba dalam menjalankan bisnisnya. Semua keperluan bisnis, mulai lokasi, penataan ruangan, bahan baku, desain tempat usaha dan pelatihan SDM diberikan oleh pemilik princis. Biaya untuk princais laundry, kini antara antara Rp50-200 juta.

Kedua, menjalankan bisnis sendiri. Alasan ini didasari pada beberapa hal. Antara lain, tidak ada jaminan usaha prancise langsung berhasil begitu didirikan. Banyak pactor yang menentukan keberhasilan usaha mulai manajamen, internal SDM, bahkan lokasi usaha turut menentukan. Di samping itu, membuka laundry sendiri dalam segi biaya relative ringan. Perlengkapan misalnya, bila belum tersedia, bisa nyicil sesuai kemampuan dan kebutuhan usaha, meski harus banyak trial and error.

Manfaatkan Yang Ada

Bila di rumah memiliki mesin cuci dua tabung manfaatkan saja, sebelum mampu membeli mesin cuci standar laundry. Biasanya bila menunggu fasilitas dan modal lengkap, usaha hanya berjalan di atas kertas, alias tidak pernah dimulai. Memulai itu memang sulut meski tak kalah sulitnya dengan meneruskan.

Gunakan otak kanan. Demikian Ippoh Santoso, pakar marketing dalam bukunya yang cukup profoklatif. Otak kanan membawa pada imajinasi, intuitif dan kreatifitas serta berbau-bau hal petualang. Maka mulailah membuka usaha laundry meski modal mesin cuci biasa dan pengering dijemur di tali jemur depan rumah atau di loteng lantaI dua rumah anda. Demikian juga bila belum memiliki strika bagus, gunakan strika yang biasa digunakan sehari-hari.

Soal kemudian memperbaiki kualitas disana baru kita optimalkan otak kiri. Otak kiri sifatnya menganalisis berbagai kemungkinan dari bisnis yang kita jalankan, termasuk menyediakan berbagai peralatan yang dibutuhkan manakala usaha laundry kita sudah berjalan.

Beberapa asset yang dapat digunakan untuk usaha :

1. Rumah bisa dijadikan sebagai workshop laundry

2. Kendaraan sepeda motor/mobil bisa digunakan untuk delivery service laundry

3. Mesin Cuci Keluarga

4. Pekarangan/loteng bisa dijadikan tempat menjemur dan

5. Barang atau alat-alat yang dapat mendukung usaha jasa laundry

Menjadi Agen

Bila anda masih ragu menjalankan langsung bisnis laundry, cobalah menjadi agen terlebih dahulu. Tugas agen cukup ringan, hanya mengumpulkan pekaian pelanggan baik di rumah atau di tempat usaha atau bahkan di rumah kos-kosan. Pemilik laundry biasanya memberikan fasilitas kiloan, pembungkus juga nota dan spanduk. Bila ada order, anda tinggal mengirim ke pusat laundry atau menelpon petugas laundry mitra anda. Keuntungan yang diberikan pemilik laundry antara 20-30 persen sesuai kesepakatan kerja. Nah, dengan berjalannya waktu, setidaknya anda akan mendapat pengalaman bagaimana menjalankan bisnis laundry.

Bila dirasa kurang cukup, coba sesekali main kepusat laundry mitra anda untuk mengetahui bagaimana proses pencucian yang biasa dilakukan. Sambil sesekali bertanya kepada pegawainya. Dari kunjungan itu sedikit banyak kita akan mengatahui cara kerja di laundry untuk kemudian ditiru bila belum bisa menciptakan system tersendiri. Bila dirasa sudah matang, jangan menunda-nunda waktu, secepatnya anda buka laundry sendiri.

Mencari Sumber Keuangan

Apapun bisnis yang kita jalankan, tentu membutuhkan permodalan baik untuk membuka usaha maupun untuk mengembangkan usaha. Beruntung bagi pengusaha yang sudah punya tabungan, mereka tinggal menggelontorkan tabungan dari rekeningnya. Namun bagi yang tidak memiliki tabungan, alias modal nekat dalam menjalankan usaha untuk memperoleh dana segar dirasa cukup sulit. Namun demikian jangan patah arang. Kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Demikian juga Kota Roma tidak dibangun dalam satu malam.

Di bawah ini, dibahas beberapa perusahaan BUMN yang memberikan pinjaman tanpa jaminan juga bunga yang super ringan yang bisa digunakan untuk menjalankan bisnis.

1. PT Pertamina

Berdasarakan catatan kementerian BUMN, dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari seluruh BUMN pada tahun 2010 sebesar Rp2.6 triliun. Sedangkan mitra binaan di seluruh Indonesia mencapai 650 ribu perusahaan, terbanyak mitra binaan PT Pertamina sebanyak 7 ribu UKM, disusul mitra binaan PT. Telkom kemudian Bank Mandiri dan Bank BNI.

Pada tahun 2008 PT Pertamina menggelontorkan dana pinjaman kepada KUKM sebesar Rp30 miliar dan sebesar Rp20 miliar pada tahun 2009. Untuk mengakses dana tersebut dapat melalui Pertamina di masing-masing daerah dengan mengajukan proposal permohonan pinjaman dana bergulir.

2. PT. Telkom

PT Telkom sejak tahun 2001 sampai 2009 telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp955 milyar kepada 61.871 Mitra Binaan di seluruh Indonesia. Realisasi pinjaman itu dialokasikan kepada sector industry jasa, perdagangan, peternakan, perikanan, pertanian, perkebunan dan lain-lain.

Untuk mendapat dana kemitraan dari PT Telkom, relative mudah. Coba sesekali menghubungi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang ada di setiap kantor cabang PT Telkom untuk menanyakan persyaratannya.

Biasanya hanya keterangan usaha cukup dari desa di mana lokasi usaha dijalankan. Proposalpun dibuat alakadarnya yang penting merepresentasikan gambaran usaha kita. Demikian juga usaha yang akan diajukan, tidak usah sudah berbentuk badan usaha, seperti NPWP, SIUP TDF dan lain-lain. Namun bila sudah ada akan sangat membantu.

Setelah mengajukan, mereka akan mensurvay calon mitra binaan langsung ke rumah. Bila memang usahanya riil biasanya Telkom tanpa banyak urusan langsung diberi pinjaman. Namun jangan harap langsung besar. Mereka melihat treck record dalam periode pengembalian. Bila dianggap lancar dan benar-benar bertanggungjawab atas pinjamannya, dalam periode selanjutnya si mitra binaan akan terus diberi pinjaman.

Enaknya lagi, sebagaia mitra binaan Telkom, selalu diberi pelatihan. Seperti motivasi usaha, manajemen bisnis demi mendorong pengembangan usaha mitra binaan. Tak jarang, bagi mitra binaan yang sudah relative berhasil, Telkom membiayai keikutsertaan di even-even pameran.

3. Pemda

Selaian pemerintah pusat, pemerintah di masing-masing daerah konsisten dengan pengambangan KUKM dengan menyalurkan pinjamna ringan kepada pelaku KUKM melalui dinas Koperasi dan KUKM. (NAma dinas terkait UKM berbeda di masing-masing daerah).

Dalam pemberian pinjaman, pemda selalu bekerja sama dengan bank daerah masing-masing. Salah satu contoh, di Jawa Barat pemerintah kota atau kabupaten dan provinsi menyalurkan modal untuk KUKM dari APBD melalui Bank Jabar-Banten.

4. Fasilitas KUR

Mulai tahun 2009, pemerintah telah menjalanakn program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada kementerian Koperasi dan UKM, melalui bank-bank yang ditunjuk. Saat itu, yakni Bukopin, Bank Mandiri, BTN, BNI, BRI dan Bank Syariah Mandiri.

Tahun 2008 pemerintah mengaloaksikan Rp1,45 Triliun, tahun 2009 Rp2 triliun dan tahun 2010 ditargetkan mencapai Rp20 triliun. Prediksi peningkatan penyerapan dana KUR tersebut karena semakin banyak melibatkan bank penyalur KUR sebanyak 15 bank. Dana KUR ini selain bunganya kecil, hanya 16 persen per tahun juga pinjaman di bawah Rp5 juta tidak diminta jaminan.

5. Bagi Hasil Model Ekonomi Syariah

Alternatif lain, selain sumber modal yang diterangkan di atas, mencari modal dengan cara bagi hasil baik berupa mudhorobah atau musyarohak. Mudhorobah diartikan sebagai bentuk kerjasama di mana pemodal (sohibul mall) menyerahkan dana supaya dikelola oleh pengusaha (mudhorib). Sedangkan keuntungan dibagi sesuai kesepakatan kerja dalam waktu tertentu sesuai kesepakatan pula. Bila terjadi kerugian, dibagi dua atau sesuai kesepakatan dengan syarat, apakah kerugian karena pengelola atau ada factor lain di luar perhitungan pengelola atau ada faktir kesengajaan. Nisbah bagi hasil bisa ditentukan antara 50:50 atau 40:60 atau lebih besar.

Sedangkan akad musyarohak, merupakan kerjasama yang melibatkan beberapa pihak baik bertindak sebagai pemodal atau pemilik keahlian yang bersepakat menjalankan usaha. Misalnya, si A ingin menjalankan usaha laundry di sebuah tempat. Namun lantaran modal kurang, kemudian si A mengajak si B dan C untuk bergabung di bisnis laundry itu. Sedangkan keuntungan dibagi rata atau sesuai kesepakatn bersama sesuai beban atau persentase modal dan kerja masing-masing.

Namun mesti diingat, dalam ber -mudhorobah atau ber-musyarokah, perlu perjanjian di atas kertas. Hal ini sangat penting bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan juga menyangkut siapa yang diserahi mengelola usaha dan lain-lain. Bila kemudian terjadi perselisihan dapat merujuk pada perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Perjanjian itu harus dibuat sedetail dan seadil mungkin bagia kedua belah pihak agar tidak ada yang dizalimi. Ingat, salah satu ciri bisnis Islami harus adil juga harus menghindari maesir (judi), ghoror (spekulatif), khomar (arak/penyalahgunaan /narkoba) dan riba.

Model bagi hasil ini relative lebih aman, karena si pengelola tidak diberatkan dengan pengembalian bunga. Namun perlu ditekankan pula harus adalah kejujuran dan saling percaya dari kedua belah pihak. Si pengelola, harus jujur kepada si pemilik modal, apa saja yang telah dilakukan mengenani usaha bersama itu, juga terbuka akan penggunaan keuangannnya, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak-pihak anggota. (*)


Bersambung………………Memulai Bisnis Laundry (Bagian 2)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar